Jumat, 07 November 2008

Pangeran Charles Tertarik Tangani Lingkungan DKI


Dalam kunjungan kerjanya selama lima hari di Indonesia, Pangeran Charles Putra Mahkota Kerajaan Inggris menyempatkan diri mampir ke Jakarta. Kesempatan tersebut dimanfaatkan Pangeran Charles bertemu dengan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, di Fours Season Hotel, Rabu (5/11). Pangeran Charles yang memiliki Yayasan Built Environment berharap pada gubernur agar dapat mengakses sumber penanganan kualitas lingkungan hidup di Jakarta.

Yayasan milik Pangeran Charles berkonsentrasi pada perbaikan lingkungan kota yang berbasis pada kekayaan lokal dengan pendekatan perkotaan tradisional (tradisional urbanism). Yayasan ini melakukan upaya pembangunan perkotaan dengan sistem mix-used yang mendekatkan permukiman dengan lokasi aktivitas ekonomisnya dalam satu kawasan. Sehingga dapat mengurangi penggunaan kendaraan bermotor.

Permintaan tersebut jelas mendapat sambutan luar biasa dari gubernur. Apalagi, Jakarta memang tengah direpotkan dengan pertumbuhan kendaran yang tidak seimbang dengan jalan. Rencananya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan mengirimkan tenaga profesional untuk mempelajari model pengendalian kendaraan bermotor di London.

“Memang saat ini kita sedang mempelajari model pengendalian kendaraan bermotor dari London. Saya akan mengirimkan orang yang ahli di bidang tersebut ke sana,” kata Fauzi Bowo usai Rapat Paripurna di DPRD DKI, Rabu (5/11). Mengenai pengiriman staf ahli Pemprov DKI ke London telah mendapatkan lampu hijau dari Pangeran Charles.

Hal lain yang dilakukan yayasan ini, lanjut Fauzi Bowo, memberikan bantuan pendidikan yang bertujuan meningkatkan taraf hidup masyarakat kota melalui pembelajaran dan penerapan praktik terbaik dengan waktu yang tidak terbatas. Dengan pendekatan ekologis untuk bidang perencanaan, perancangan, dan pembangunan suatu daerah atau kota secara berkelanjutan.

Ada empat hal yang dapat dipelajari Pemprov DKI dari Yayasan Built Environment yaitu program pendidikan, bidang proyek dan praktk, kebijakan dan penelitian, serta teori dan jejaring desain. Untuk program pendidikan, ditawarkan serangkaian konferensi dan kursus singkat dalam membangun green building. Diajarkan pula fundamental pembuatan kota yang didasarkan para prinsip perkotaan tradisional, konteks historis, desain permukiman dan kodifikasi desain. Salah satu forum tahunannya yang terkenal adalah Residential Summer School dan program Master Perkotaan.

Terkait green building, Fauzi Bowo meminta kepada Pangeran Charles agar pembangunan gedung Kedutaan Besar Inggris di kawasan Kuningan dapat memenuhi kriteria green building, yaitu konsep penataan gedung yang ramah lingkungan. “Kantor kedubes Inggris akan pindah dari MH Thamrin ke Kuningan. Kita minta agar menjadi standard green building di Jakarta,” terang mantan wakil gubernur era Sutiyoso ini.

Bidang proyek dan praktik merupakan bentuk konsultasi dari yayasan dengan pendekatan multi disiplin yang meliputi para arsitek, perancang kota dan perencana kota dengan melaksanakan kegiatannya dalam bentuk social enterprise. Salah satu tujuan utamanya yaitu membangun sejumlah proyek-proyek percontohan. Karenanya yayasan itu akan mendemonstrasikan penggunaan peralatan dan teknik pembangunan perkotaan tradisional.

Untuk menindaklanjuti pertemuan tersebut, disepakati untuk melakukan pertukaran kunjungan antara pejabat terkait yaitu Pemprov DKI dan Inggris yang akan difasilitasi oleh kedutaan Besar di Jakarta. “Saya belum tahu kapan waktunya. Nanti diaturlah,” ujar dia. Ditambahkannya, Pangeran Charles sangat terkesan dengan perkembangan pesat Kota Jakarta jika dibandingkan kunjungannya 19 tahun yang lalu.

Reporter: lenny


Sumber Berita : beritajakarta.com

Senin, 27 Oktober 2008

Untuk Bumi Yang Lebih Nyaman

Koran Kompas kamis, 5 Juni 2008

Untuk Bumi Yang Lebih Nyamanpetani

Mungkin tidak semua orang tahusorry bahwa tanggal 5 juni selalu diperingati sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia atau World Environment Day ( WED ) yang setiap tahunnya selalu mengangkat tema-tema yang berbeda. Di Indonesia tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini adalah “Ubah Perilaku da Cegah Pencemaran Lingkungan” sementara untuk duni “Kick the Habit!: Towards A Low Carbon Economy”.
Hari Lingkungan Hidup Sedunia dicetuskanpertama kali pada tahun 1972 menyusul konferensi PBB mengenai lingkungan hidup pada 5 Juni 1972 di Stockholm, Swedia dimana peringatan ini ditujukan untuk membangun kesadaran segenap warga dunia untuk mulai beraksi menyelamatkan bumi.
Selain mengangkat tema yang berbeda setiap tahunnya, peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia juga digelar di Negara-negara yang berbeda. Dari tahun 2004 secara berturut-turut Hari Lingkungan Hidup Sedunia digelar di Barcelona-Spanyol, San Francisco-Amerika Serikat, Algiers-Algeria,, Tromso-Norwegia.
Tahun ini 2008 peringatan tersebut digelar di New Zealand, dimana acara difokuskan pada solusi serta upaya bagi Negara, industri, dan komunitas-komunitas yang ada untuk mengubah perilaku dan mengurangi emisi kabondioksida yang menjadi salah satu gasa pembentuk rumah kaca.
Efek rumah kacatension

Efek rumah kaca dan pemanasan global kini bukan lagi menjadi sebuah wacana, sebaliknya kini menjadi sebuah kenyataan yang harus dihadapi oleh setiap penduduk bumi.
Secara singkat, pemanasan global merupakan dampal atas terperangkapnya panas matahari di dalam atmosfer bumi, Fenomena ini biasa disebut sebagai efek rumah kaca, yaitu selubung karbondioksida yang membiarkan radiasi cahaya matahari masuk akan tetapi menghalangi radiasi panasnya kembali keluar. Akibatnya suhu permukaan bumi mengalami peningkatan dan berdampak pada banyak hal, mulai dari mencairya lapisan es di kutub hingga perubahan iklim.
Ambil contoh penelitian yang dilakukan di Kenya menunjukan korelasi yang kuat antara kenaikan suhu, hujan yang sangat berfluktasi, dan penyebaran nyamuk malaria ke dataran tinggi, termasuk Nairobi-ibu kota Kenya- yang sebelumnya terlindung dari ancaman penyakit parasit ini. ( Kompas, 28 Mei 2007 )
Pemanasan global sendiri sebenarnya bukanlah hal yang baru karena pada tahun 1800-an seorang ilmuwan asal Swedia Svante Arrhenius telah mengemukakan hal serupa. Namun sayang pada saat itu belum banyak mendapat perhatian dunia. Terbukti dari kondisi lingkungan yang terus memburuk.

Mulai beraksitembak

Untuk menekan laju pemanasan global tentu membutuhkan langkah bersama dari berbagai pihak, mulai dari individu hingga para pelaku industri.
Di industri otomotif misalnya yang kini telah mengaplikasikan teknologi catalytic converter untuk mereduksi emisi gas buang kendaraan atau pengembangan teknologi hibrida, solar cell, dan lain sebagainya termasuk mengadopsi konsep hijau pada pabriknya. Seperti yang dilakukan Prospect Motor yang menuangkan konsep tersebut antara lain dengan menerapkan ISO 14001, pengendalian emisi pabrik, pengolahan limbah, dan efisiensi bahan baker.
Akan halnya dengan penghijauan yang menjadi salah satu upaya untuk mengurangi karbondioksida karena tumbuh-tumbuhan “mencuci” karbondioksida menjadi oksigen kembali.
Arsitek lanskap Nirwono Joga pernah menggambarkan dihasian ini pada tahun 2004 bahwa pada lahan seluas 1.600 meter persegi yang terdapat 16 pohon berdiameter tajuk 10 m mampu menyuplai oksigen (O2) sebesar14.000 liter per orang. Setiap jam, satu hektar daun-daun hijau dapat menyerap delapan kilogram CO2 yang setara dengan CO2 yang dihembuskan oleh napas manusia sekitar 200 orang dalam waktu yang samabiggrin.
Dari sini bisa dibayangkan betapa tumbuh-tumbuhan dan lingkungan hidup memegang peranan yang penting untuk meningkatkan kualitas hidup. Hal inilah yang kemudian mendasari beberapa industri di tanah air untuk bergerak memberikan dukungan pada upaya pelestarian lingkungan.
PT Djarum melalui Djarum Bakti Lingkungan misalnya yang sejak tahun 1979 mulai merintis penghijauan di kota Kudus yang menjadi basis usahanya. Dan sebagai kelanjutan dari upaya penghijauan ini, PT Djarum juga mendirikan pusat pendidikan aneka tanaman penghijauan milik perusahaan dan juga tanaman langka yang dikelola secara intensif.
Akan halnya yang dilakukan Kementrian Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia bekerja sama dengan PT Antheus Indonesia dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup mengadakan Pekan Lingkungan Indonesia tahun 2008 yang saat ini merupakan penyelenggaraan yang ke-12 kalinya dan ditujukan untuk menumbuhkan kesadaran masnyarakat bahwa lingkungan tidak hanya merupakan tanggung jawab individu, tetapi merupakan perwujudan tanggung jawab bersama.
Masih banyak upaya yang dapat dilakukan untuk menjadikan bumi tempat yang lebih nyaman untuk dihuni, di mana untuk itu kesadaran dari setiap individu menjadi hal yang mutlak diperlukan karena tanpa itu keberlangsungan hidup penghuni bumi adalah taruhannya.








Indahnya Tamanku Yang Sederhana


Gambar Diatas Adalah Gambar Yah Gabisa Dibilang Taman Sih, Tapi Saya Sebut Taman Aja Deh. Taman Diatas Adalah Hasil Jerih Payah Saya Selama Ini Yang Dikala Pagi Menjelang KeSekolah Sewaktu SMP ( Sekolah Menengah Pertama ) Rajin DiSiram Dengan Air Yang Asalnya Sangat Jauh Dan Jika DiLihat Dari Dari Kejauhan Air Itu Warnanya Hitam Tetapi Kalau DiLihat Dari Dekat Warnanya Bening-Sebening Muka Kamu ( Alah Gombalnya Kebanyakan ) Yang Bener Saya Pakai Air PAM Punya Pemerintah. Tanaman DiAtas Sebenarnya Ada Yang Saya Tanam Sendiri Atau Tidak Sengaja KeTanam Seperti Pohon Jambu Biji, Kenapa Bisa Tidak Sengaja? Begini Ceritanya : Saat Pulang Sewaktu SMP Kelas 7 ( 1 SMP ) Saya Dan Kawan-Kawan Melihat Ada Yang Sedang Berjualan Jambu Biji DiPasar Dekat Lingkungan Rumah Kami, Nah Ada Temen Yang Berencana Untuk Membeli Jambu Biji Tersebut, Dan Kami Patungan ( Ngga Tau Deh Bahasa Indonesianya, Itu Bahasa Yang Saya Pakai ) Rp.500 Per Orang Dan Saat Itu Ada Sekitar 5 Orang Dan Uang Yang Terkempul Berjumlah Rp.2.500 Dan Mendapatkan Jambu Biji Sebanyak 5 Buah Yang Buesar-Buesar Sesampainya Di Gangan Kami, Kami Berlima Berpikir Wah Makan Bareng-Bareng Yang Enak Dan Luas Dimana Yah? Oh Iya DiRumah Kamu Aja ( Menunjuk Saya ). Oke Deh, Ayo Semuanya KeRumah Saya ( Sok Alim Padahal Mah Biasanya Ngomong Gua ). Sesampainya DiRumah Jambu Itu DiCuci Terlebih Dahulu Dengan Air PAM, Setelah DiCuci Semuanya Pada Langsung Melahapnya Deh Tanpa Perlu Di Bersihkan Bijinya, Itu Dulu Tapi Sekarang Saya Sudah Mengerti Bahwa Memakan Biji Seperti Itu Bisa Menyebabkan Usus Buntu. Kita Lanjutkan Ceritanya, Nah Bijinya Sih Ngga DiMakan Tapi Hanya Dimasukkan KeMulut Lalu DiMakan Sarinya Dan Bijinya Langsung DiLepehin KeTanah Yang Gersang. Dari Situlah Muncul Pohon Jambu Biji DiRumah Saya. Artikel Ini Sih Sebenarnya Postingan Perdana Saya DiBLog Ini Yang MemFokuskan Isinya Dengan Hal-Hal Yang Menyangkut Kesalamatan Bumi Kita Yang Tercinta Ini Seperti Global Warming, Let’s Go Green, Cara Menanam Dan Khasiatnya, Tips Dan Trik DiKehidupan Kita Sehari-Hari DLL. Blog Ini Juga Membuka Seluas-Luasnya Bagi Anda Yang Ingin Mengirimkan Artikel Buatan Anda Tentang Lingkungan Atau Yang Lain-Lain Ke Alamat E-Mail albanna.hasan@gmail.com Dan Jangan Lupa Mencantumkan Nama Dan Keterangan Singkat Tentang Artikel Yang Anda Kirimkan. DiBlog Ini Juga Tidak Tertutup Kemungkinan Artikel DiDalamnya Adalah Hasil Copy-Paste Dari Website, Atau Blog Yang Sama-Sama Berhubungan Dengan Blog Ini Dan Sebagai Blogger Yang Bertanggung Jawab Saya Akan Menaruh Link BLog Atau Website DiBawah Artikel Yang Saya Copy. Insya Allah Kalau Blog Ini Sudah Berkenbang Lebih Jauh Dan Pengunjungnya MAkin Banyak Saya Dan Saya Juga Mengerti Tata-Cara Membuatnya, Saya Akan Membuat Forum Kecil-Kecilan Untuk Blog Ini. Saya Mohon Kritik Dan Saran Anda Untuk Kemajuan Blog Yang Baru DiBangun Ini.



MAAF GAMBARNYA GA ADA, SOALNYA SELALU ADA ERROR YOUR HTML CANNOT BE ACCEPTED.